Adat Istiadat
TRADISI MERTI DUSUN KI AGENG TUNGGUL WULUNG, SENDANGAGUNG, MINGGIR, SLEMAN (I)
Jumat Pon, 24 Juli 2009, masyarakat dari beberapa padukuhan di Kalurahan Sendang Agung, Kecamatan Minggir kembali menggelar tradisi leluhur dengan nama kegiatan Tradisi Merti Dusun Ki Ageng Tunggul Wulung. Tradisi merti dusun Ki Ageng Tunggul Wulung itu sendiri sesungguhnya merupakan tradisi yang telah sejak lama berlangsung di tempat ini. Hanya saja pada perkembangan berikutnya kegiatan atau tradisi ini kemudian juga dibina oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman.
Menurut Tumin Raharjo selaku Ketua Panitia Tradisi Merti Dusun Ki Ageng Tunggula Wulung, tokoh Ki Ageng Tunggul Wulung merupakan seorang panglima perang dari Majapahit yang mengembara sampai tempat ini. Pengembaraan ini dipicu oleh perang yang terjadi di Majapahit. Diduga Ki Ageng Tunggul Wulung adalah
satu keturunan Prabu Brawijaya V. Pelariannya akhirnya sampai di Dusun Dukuhan, Sendang Agung, Minggir. Di wilayah ini ia kemudian membuka dusun atau pemikiman bersama para pengikutnya. Diduga ia mula-mula sampai di Dusun Ndiro, Minggir, Sleman. Di tempat ini ia mendirikan semacam kerajaan kecil dan membangun sebuah sendang yang dinamakan Sendang Beji.
Masuknya Ki Ageng Tunggul Wulung di wilayah ini mengakibatkan wilayah ini menjadi lebih aman dan tenteram. Hal ini membuat orang lain ikut tertarik untuk tinggal di tempat ini. Semua itu terjadi karena peran Ki Ageng Tunggul Wulung yang dapat memberikan pengayoman kepada warga lain yang bermukim di tempat itu (masyarakat) serta mampu pula memberikan kemakmuran.
Pada suatu ketika Ki Ageng Tunggul Wulung bertapa atau bersemadi di pinggir Sungai Progo di Dusun Dukuhan. Setelah beberapa saat bertapa, Ki Ageng Tunggul Wulung pun moksa. Untuk memperingati akan keberadaan dan perannya di tengah masyarakat, maka di tempat bekas ia bertapa dan moksa itu kemudian didirikan sebuah nisan. Nisan ini lebih difungsikan sebagai tetenger atau monumen dan bukan menjadi
tanda bagi makam atau kuburannya. Nisan ini sekarang telah diberi cungkup berbentuk rumah tembok dengan ukuran sekitar 8 m x 6 m. Di depan cungkup tersebut juga dibangun pendapa sebagai salah satu tempat persembahan dan perebutan hasil bumi (ubarampe) sesajen kirab Upacara Tradisi Merti Dusun Ki Ageng Tunggul Wulung.
Rangkaian Upacara Merti Dusun Ki Ageng Tunggul Wulung kali dimulai sejak tanggal 23 Juli 2009. Pada tanggal tersebut dilakukan pengambilan air dari Sendang Beji di Ndiro, Sendangmulyo, Minggir. Air ini dibawa ke tempat (salah satu pusat) upacara merti dusun, yakni di cungkup petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung. Di tempat ini air sendang disemayamkan. Malam harinya kemudian diadakan tahlilan (bagi pemeluk
agama Islam) dan upacara misa (bagi pemeluk agama Nasrani). Inti dari acara tersebut adalah memohon kepada Tuhan agar acara dapat berlangsung dengan lancar tanpa hambatan apa pun. Selain itu mereka juga memohon agar Tuhan selalu melindungi mereka serta mengampuni segala dosa mereka beserta para leluhur yang telah meninggal dunia, utamanya pada Ki Ageng Tunggul Wulung dan kerabatnya.
bersambung
tim tembi: sartono, suwandi, agus kamsek, budi, awang, fx purwanto













